Kalau saja "pertandingan Sepak Bola" kemenangan ditentukan bukan dikarenakan banyaknya Gol yang masuk tetapi ditentukan "BANYAKNYA PENDUKUNG" ( baca :SUARA RAKYAT BUKAN SUARA TUHAN) tidak menutup kemungkinan BANYAK TEAM BOLA beranggotakan Para ARTIS atau para selebritis
Lihat saja Pemilu atau Pilkada yang kemenangannya ditentukan oleh banyaknya jumlah Pemilihnya .. Seringkali didapati Artis dan Selebritis dijadikan "pendulang suara" atau dicalonkan sebagai calon Pemimpin Politik dalam sebuah wilayah.
Kalau para Artis dan Selebritis memang punya kemampuan kepemimpinan ,kemampuan menyerap aspirasi rakyat dan rakyat terasa terwakili atau dia bisa diharapkan menjadi SOLUSI perbaikan wilayah tersebut karena para Artis dan Selebritis juga memiliki hak untuk memilih dan dipulih
Dengan melihat kembali hal ini maka kemenenangan Ahmad Heryawan dan Dede Yusuf sebelumnya lebih mirip dengan kemenangan Jokowi-Ahok dalam Pilkada DKI yang lebih mirip dengan PERANG TOKOH.Lihat saja Pemilu atau Pilkada yang kemenangannya ditentukan oleh banyaknya jumlah Pemilihnya .. Seringkali didapati Artis dan Selebritis dijadikan "pendulang suara" atau dicalonkan sebagai calon Pemimpin Politik dalam sebuah wilayah.
Kalau para Artis dan Selebritis memang punya kemampuan kepemimpinan ,kemampuan menyerap aspirasi rakyat dan rakyat terasa terwakili atau dia bisa diharapkan menjadi SOLUSI perbaikan wilayah tersebut karena para Artis dan Selebritis juga memiliki hak untuk memilih dan dipulih
Kalau kita mencermati Pilkada pilkada yang ada, banyak sekali terungkap Para Artis dan Selebritis yang sebelumnya tidak pernah dikenal sebagai orang yang Concern terhadap persoalan persoalan Politik dan mereka lebih dikenal sebagai orang hanya sekedar "Wajah cantik atau Ganteng" , Suara bagus ,dan ahli Akting didepan Kamera ,apalagi yang kenal sebagai Artis yang suka "UMBAR DAGINGNYA" untuk dikosumsi mata publik yang dijagokan untuk menjadi "PEMIMPIN" oleh partai politik yang memiliki hak untuk mengajukan kandidatnya untuk menjadi pemimpin sebuah wilayah , perkembangan ini sangat mengundang keprihatinan
Dan contoh Pilkada untuk Pemilihan Gubernur Provingsi Jawa Barat adalah contoh terbaru bagaimana para Parpol Parpol Besar seakan berlomba mengajukan "SELEBRITIS" sehingga banyak pihak menyebut Pilkada Jabar sebagai "PERANG ARTIS"
Terkait Perang Artis di Pilkada Jawa barat, ada tulisan menarik di Kompasiana yang ditulis oleh Handoyo El Jeffry yang sedikit mengupas JEJAK REKAM para SELEBRITIS yang dijagokan untuk menjadi Pemimpin wilayah jawa barat .
berikut tulisannnya :
Realita PERANG ARTIS ini sepertinya sangat dipengaruhi oleh Pilkada sebelumnya, ketika Pasangan Kandidat Ahmad Heryawa-Dede Yusuf yang sebelumnya mampu mengalahkan mengungguli pasangan Danny Setiawan- Mayjen (purn) Iwan Sulandjana (Incumbent) dan pasangan Jenderal TNI (purn) Agum Gumelar-Nu'man Abdulhakim.(Tokoh Nasional)
Sebagian Besar Parpol yang ada lebih melihat kemenangan tersebut karena adanya "SOSOK KEARTISAN DEDE YUSUF" , sehingga ketika sosok Dede Yusuf akan maju lagi menjadi Calon Gubernur Jawa Barat yang diusung oleh partai yang berbeda dengan partai sebelumnya,maka para pesaing termasuk PKS yang mengusung Ahmad Heryawan yang kini dalam posisi Incumbent perlu menghadirkan SOSOK SELEBRITIS untuk menjadi kandidat pasangan Pilkada Gubernur Jawa Barat.
Dalam analisis Prayitno ramelan Penasihat Menteri Pertahanan Bidang Intelijen (Era Bpk. Matori Abdul Djalil, Alm), yang disampaikan di Blog miliknya kemenangan pasanga Ahmad Heryawan-Dede Yusuf disebabkan kejenuhan Masyarakat terhadap janji janji para pejabat dam juga kecerdikan mereka mengajukan PEMIMPIN MUDA YANG KREATIF
berikut ini kutipan analisisnya yang dipostingkan tanggal 1 September 2008 setelah hasil Quick Count mengunggulkan pasangan Ahmad Heryawan-Dede Yusuf
Dan contoh Pilkada untuk Pemilihan Gubernur Provingsi Jawa Barat adalah contoh terbaru bagaimana para Parpol Parpol Besar seakan berlomba mengajukan "SELEBRITIS" sehingga banyak pihak menyebut Pilkada Jabar sebagai "PERANG ARTIS"
Terkait Perang Artis di Pilkada Jawa barat, ada tulisan menarik di Kompasiana yang ditulis oleh Handoyo El Jeffry yang sedikit mengupas JEJAK REKAM para SELEBRITIS yang dijagokan untuk menjadi Pemimpin wilayah jawa barat .
berikut tulisannnya :
Dalam beberapa bulan ke depan, Jawa Barat bakal kembali larut dalam hiruk-pikuk dan gegap gempita “perang bintang” di atas papan “panggung sandiwara” percaturan politik kekuasaan. Parade artis-aktor-aktris yang bereksodus dari “panggung seni” ke panggung politik praktis menciptakan medan magnetis. Tak salah dan tak dosa, disamping karena kesetaraan hak politik yang dijamin oleh negara, kehadiran artis di dunia politis juga diharapkan bisa sedikit mengubah “keangkeran” wajah politik dan penambah dinamika.Panggung politik selama ini memang identik dengan intrik-konflik dalam gesekan panas bernuansa buas, ketegangan saraf yang membuat kita cepat tua sebelum waktunya. Mungkin kini saatnya kita sedikit relaksasi dengan mencoba menjadikannya sebagai “panggung hiburan” yang nyata, bukan sekadar parodi cerita basa-basi. Toh selama ini kita yang telah merdeka hampir 70 tahun lamanya juga jengah dan begah dengan gelaran “drama dagelan” kekuasaan.Seperti puisi Taufik Ismail dalam lagu “Panggung Sandiwara” yang dicipta bersama Ian Antono dan dipopulerkan oleh artis gaek Ahmad Albar, pilkada Jabar kali ini sangat cocok sebagai pergelaran “Panggung Sandiwara” persembahan teranyar sinema-politikana Indonesia. Dari kelima pasangan yang bakal bertarung, tiga di antaranya diperkuat oleh selebriti seni abad ini. Dipercaya oleh banyak kalangan, 3 seniman ini justru bakal menjadi sentral pertarungan perebutan kursi Jabar1 dan Jabar2.Yang pertama adalah aktor muda berbakat Dede Yusuf “Macan Effendi,” (46 tahun), sang wagub petahana yang kali ini maju sebagai cagub berpasangan dengan Lex Laksamana. Lalu aktris Rieke Dyah Pitaloka, kali ini maju sebagai cagub berpasangan dengan tokoh pegiat anti korupsi Teten Masduki. Dan yang terakhir adalah Deddy Mizwar, aktor gaek yang kondang sebagai “Naga Bonar” dan kali ini maju sebagai cawagub mendampingi gubernur petahana Ahmad Heryawan.Akankah kehadiran 3 “ahli sandiwara” dalam dunia hiburan di dunia kenyataan, dengan spesifikasi ikon dan citra masing-masing, bisa diharapkan akan membawa perubahan warna dan tekstur dalam kanvas perpolitikan-kekuasaan? Jawabannya, bisa ya, bisa tidak, alias semua penuh kemungkinan. Abaikan partai politik yang berada di belakang ketiganya, mari coba sedikit mengulas kans dan mengupas peluang, siapa di antara ketiganya yang bakal meraih “piala citra” kekuasaan pada pilkada Jabar 2013 mendatang.Kecuali Rieke, di dalam sinema layar lebar dan sinema elektronika (sinetron), Dede dan Deddy memang tampil sebagai sosok protagonis. Dede Yusuf, yang sepanjang kariernya sejak 1987 telah melakoni peran di 12 judul film dan sinetron, hampir identik dengan seorang jagoan, khususnya dalam film “Perwira dan Ksatria.” Apalagi Dede yang sempat populer dengan nama Jojo (peran dalam serial sinetron TVRI 1988 Jendela Rumah Kita) memang “jago” ilmu bela diri pencak silat, kungfu dan taekwondo.Namun agaknya “ruh kependekaran” sang aktor di “dunia sandiwara” film tak begitu sempurna ber-“Reinkarnasi” dalam dunia nyata kekuasaan. Beberapa kalangan menilai Dede Yusuf tak berprestasi ketika hampir 5 tahun menjabat sebagai wagub Jabar. Di samping itu, selebriti yang sejak 1994 membintangi 8 produk iklan ini tengah mengalami penurunan elektabilitas di mata publik sejak kepindahannya dari PAN ke Demokrat yang kini mengusungnya.Berbeda dengan citra dalam lakon “panggung sandiwara” sinema Dede Yusuf, aktris Rieke Dyah Pitaloka (38 tahun) yang lebih identik dengan tokoh wanita lugu sedikit o’on-pandir sebagai isteri Bajuri, kali ini maju dengan berbekal politik sebagai anggota DPR periode 2009-2014 dari PDI-P. Berbekal intelektualitas pendidikan S2 di jurusan filsafat Universitas Indonesia, Rieke nampak jauh berbeda dengan sosok “Oneng” yang diperankannya.Selain berlatar artis dan aktif dalam politik, Rieke juga dikenal sebagai penulis buku, pembawa acara, pemain teater, aktif di kegiatan sosial dengan mendirikan “Yayasan Pitaloka” yang bergerak di bidang santera dan sosial kemasyarakatan. Sudah 13 sinetron dan 4 judul film yang dibintanginya (yang paling ngetop adalah sitkom Bajaj Bajuri dan Laskar Pelangi). Meski masih belum terlalu memuaskan, ada sedikit catatan prestasi politik Rieke di DPR, khususnya dalam memperjuangkan kaum buruh.Di DPR pula Rieke gigih memperjuangkan RUU Badan Penyelenggaraan Jaminan Sosial (BPJS), bersuara lantang agar moratorium Pegawai Negeri Sipil (PNS) tidak diberlakukan, dan getol mendesak pemerintah untuk menghapuskan aturan tentang tenaga kerja “outsourcing” dan upah murah. Di tingkat internasional, Rieke belum lama ini menerima Penghargaan Internasional Young Global Leaders 2011 dari World Economic Forum, karena dinilai sebagai politisi muda dan anggota parlemen yang punya pengaruh di Asia.Rieke Dyah Pitaloka menjadi satu-satunya “srikandi” muda yang siap berlaga di “panggung sandiwara” pilkada Jabar. Namun untuk berjaya menjadi jawara di antara 4 pasang ksatria “maskulin” lainnya, Rieke mesti bisa “berakting” lebih kepada heroisme sebagaimana spirit srikandi dalam tokoh protagonis pewayangan Jawa. Citra o’on “Oneng” mesti dilepaskan dari dirinya, karena provinsi berpendudukhampir 50 juta jiwa butuh pemimpin yang benar-benar berkarakter “fighter” bervisi kerakyatan. Bukan type ibu rumah tangga lugu berkapasitas “Jaka Sembung” yang selalu gagal nyambung dengan rakyat.Lalu bagaimana dengan Deddy Mizwar? Dalam banyak hal di dunia seni-sinema, aktor yang satu ini memang unggul segalanya. Jauh lebih tua dari Dede dan Rieke dalam usianya yang ke-57, serta prestasi seni yang bejibun menjadikan Deddy sebagai sang maestro dalam urusan “panggung sandiwara.” Ragam peran yang dimainkan dari komedi, polisi hingga religi lewat 38 film sejak 1976, 5 sinetron, 10 produk iklan, segudang penghargaan dalam dunia sinematografi, dan tak hanya sebagai aktor, melainkan sekaligus sebagai sutradara dan produser. Deddy Mizwar dalah simbol ikon loyalitas seorang pekerja seni yang tak tertandingi.Aktor yang populer dengan lakon kocak pejuang Batak “Naga Bonar” dan “Bang Jack” dalam sekuel sinetron TV berdurasi terpanjang (sampai 6 tahun: 2007-2012) “Para Pencari Tuhan memang “ahli sandiwara” luar biasa. Jika dunia “panggung sandiwara” yang menjadi ukurannya, bisa dipastikan Deddy bakal berjaya menyisihkan lawan-lawannya. Sayangnya, berangkat dari nol kilometer pengalaman politik menjadikan langkahnya tak mudah. Sinema politikana di “panggung nyata” tak semudah dan seindah sinema elektronika di “panggung sandiwara.”Meski begitu, berbekal sebagai pendamping gubernur petahana Ahmad Heryawan dan diusung oleh partai militan PKS, Deddy dimungkinkan bakal menjadi kekuatan yang mengantarkan sang petahana untuk kembali mempertahankan kekuasaan untuk periode ke-2. Dalam beberapa faktor, Deddy Mizwar berpeluang besar untuk berkibar, beralih peran dari peran pura-pura kepada peran wajar, dalam politik kekuasaan sesungguhnya sebagai wakil gubernur Jabar.Akhir kata, sebagai “panggung kesenian rakyat” di lapangan terbuka demokrasi, Pilkada Jabar akan menjadi pentas akbar entertaining politik yang seru, syahdu, indah, hingar-bingar dan momentum cukup penting untuk sarana bangsa ini belajar. Tak ada salahnya kita kembali ber-“trial and error” dalam tata dekorasi penyulingan kepemimpinan negeri ini, dengan melibatkan para ahli seni. Toh dunia ini memang “panggung sandiwara” yang ceriteranya mudah berubah sesuai tuntutan masa dan massa.Ia selalu berupa perang-laga kebaikan-kejahatan antara Pandawa-Kurawa layaknya kisah Mahabharata. Dan kadang ia juga bisa berupa Tragedi Yunani yang berakhir dengan duka lara. Apa daya kita, sudah konsekuensi dari konsesus bersama demokrasi dalam bertata-negara. Tanggung jawab kita, khususnya 37 juta pemilih warga Jawa Barat, hanya memainkan peran dengan sebaik mungkin agar amanat suara tertitip dengan benar. Dan semoga kita bisa “lulus casting” sebagai pemeran manusia terbaik dalam permainan penuh misteri “panggung sandiwara,” termasuk dalam sinema-politikana Indonesia.Salam…
El Jeffry
Realita PERANG ARTIS ini sepertinya sangat dipengaruhi oleh Pilkada sebelumnya, ketika Pasangan Kandidat Ahmad Heryawa-Dede Yusuf yang sebelumnya mampu mengalahkan mengungguli pasangan Danny Setiawan- Mayjen (purn) Iwan Sulandjana (Incumbent) dan pasangan Jenderal TNI (purn) Agum Gumelar-Nu'man Abdulhakim.(Tokoh Nasional)
Dari perhitungan di atas kertas, dengan dasar hasil Pemilu 2004 di Jabar, jumlah konstituen partai yang mendukung mereka dinilai sulit bertanding dengan kedua pasangan lainnya yang didukung oleh gabungan partai-partai besar. Lalu, apa sebenarnya yang terjadi di balik kemenangan Ahmad Heryawan- Dede Yusuf ini? Mengapa cagub- cawagub dari partai-partai besar justru tak berkutik?
Dari fakta-fakta yang ada, pasangan calon Danny yang Gubernur Jabar (2003?2008) serta Mayjen (purn) Iwan Sulandjana (mantan Pangdam Siliwangi) tidak perlu diragukan lagi ketokohannya. Kedua tokoh itu sangat berpengalaman dalam urusan pemerintahan dan birokrasi.
Sementara itu, Agum Gumelar adalah purnawirawan jenderal yang pernah menjabat sebagai menteri, tokoh masyarakat, dan tokoh olahraga yang tidak perlu diragukan lagi. Pada pilkada ini, Agum didampingi Nu'man, Wakil Gubernur Jabar (2003-2008). Latar belakang kedua pasangan di atas teramat kontras dengan pasangan Ahmad Heryawan-Dede Yusuf. Ahmad Heryawan yang belum genap berumur 42 tahun, belum mempunyai pengalaman sebagai pejabat pemerintahan. Kariernya banyak di organisasi Islam, institusi pendidikan, dan parlemen (terakhir sebagai anggota DPRD DKI).
Demikian juga pendampingnya Dede Yusuf, lebih dikenal sebagai artis, bergabung di Partai Amanat Nasional (PAN) beberapa tahun terakhir.Sebagian Besar Parpol yang ada lebih melihat kemenangan tersebut karena adanya "SOSOK KEARTISAN DEDE YUSUF" , sehingga ketika sosok Dede Yusuf akan maju lagi menjadi Calon Gubernur Jawa Barat yang diusung oleh partai yang berbeda dengan partai sebelumnya,maka para pesaing termasuk PKS yang mengusung Ahmad Heryawan yang kini dalam posisi Incumbent perlu menghadirkan SOSOK SELEBRITIS untuk menjadi kandidat pasangan Pilkada Gubernur Jawa Barat.
Dalam analisis Prayitno ramelan Penasihat Menteri Pertahanan Bidang Intelijen (Era Bpk. Matori Abdul Djalil, Alm), yang disampaikan di Blog miliknya kemenangan pasanga Ahmad Heryawan-Dede Yusuf disebabkan kejenuhan Masyarakat terhadap janji janji para pejabat dam juga kecerdikan mereka mengajukan PEMIMPIN MUDA YANG KREATIF
berikut ini kutipan analisisnya yang dipostingkan tanggal 1 September 2008 setelah hasil Quick Count mengunggulkan pasangan Ahmad Heryawan-Dede Yusuf
Sejak bergulirnya reformasi sekitar sepuluh tahun lalu, masyarakat sangat banyak menerima informasi terbuka baik dari media massa. Banyak informasi yang diterima masyarakat bawah yang berkait dengan kesulitan kehidupan dan beratnya mencari nafkah. Informasi yang mereka terima lebih menjurus kepada menyalahkan kepemimpinan dan pemanfaatan jabatan dan tindak korupsi. Timbulnya kekacauan yang banyak terjadi lebih disebabkan karena dinilai salah urus dan kurangnya kepedulian pejabat.Pada akhirnya, masyarakat banyak yang kurang percaya terhadap janji-janji yang disampaikan mantan-mantan pejabat yang maju pada pilkada tersebut. Peluang inilah yang secara cerdik diambil PKS dan PAN. Calon yang mereka ajukan justru bukan tokoh yang sudah terkenal, diragukan mampu melawan Danny yang gubernur dan Agum yang sangat terkenal, belum lagi keduanya diperkuat calon wakilnya yang juga tokoh besar di Jawa Barat.Namun, Cagub PKS dan PAN tampil beda dan bermain pencitraan. Lihat saja foto pada kertas pilkada keduanya tidak berpeci, sedangkan kedua pasangan lainnya berwibawa dengan pecinya masing-masing. Ahmad Heryawan adalah orang muda sederhana, bukan tokoh besar di Jabar, dosen, dan hanya anggota DPRD DKI. Calon wakilnya adalah seorang artis terkenal yang menjadi politisi beberapa tahun terakhir, juga bukan tokoh besar di Jabar, dibandingkan calon lainnya.
Bagaimana Jokowi-Ahok memenangkan persaingan tersebut dengan menyodorkan Pemimpin Alternatif untuk kepemimpinan wilayah Jakarta.
Saat ini Para Parpol sudah menetapkan pilihannya untuk diajukan untuk menjadi calon Gubernur dan Wakil Gubernur.
maka siapapun yang terpilih bukanlah disebabkan mereka adalah PILIHAN TERBAIK tetapi hanya sekedar PILIHAN TERBANYAK dari warga wilayah yang akan dipimpinnya
