Breaking News
Loading...
Rabu, 28 November 2012

Rabbi Ari Shvat Keluarkan Fatwa : Agen Mossad perempuan boleh bersetubuh dengan musuh untuk mencapai misinya.

Para agen rahasia dibekali prinsip menggunakan segala cara untuk memperoleh informasi soal kelemahan dan kekuatan musuh. Dari cara paling mengenakkan, seperti berhubungan seks, hingga menyiksa.

Dasar itu pula yang harus dipegang mata-mata Mossad (dinas rahasia luar negeri Israel). Tentu saja, seks menjadi senjata andalan kaum perempuan. Karena itu pula, Rabbi Ari Shvat mengeluarkan fatwa: agen Mossad perempuan boleh bersetubuh dengan musuh untuk mencapai misinya.

Kesimpulan rabbi dari Tzomet Institute itu berdasarkan hasil kajian yang dilansir awal bulan ini. "Dibolehkan berhubungan badan dalam beberapa kasus ekstrem dan jarang jika itu merupakan solusi paling cepat dan efisien untuk memperoleh informasi atau menghentikan tindakan membahayakan negara," kata Rabbi Shvat, seperti dilansir surat kabar Haaretz dua tahun lalu.

Ia mendasarkan fatwanya pada cerita-cerita yang digali dari sejarah kaum Yahudi zaman dulu. Seperti yang dilakoni Ratu Esther yang melayani hasrat Raja Ahashverosh untuk menyelamatkan bangsa Yahudi pada tahun 500 Sebelum Masehi.

Yang disarankan memakai taktik seks adalah agen lajang. Mereka juga tidak perlu meminta izin rabbi untuk itu. "Jika harus menggunakan agen bersuami, lebih baik suaminya menceraikan dia dulu. … Setelah itu rujuk lagi," ujar Rabbi Shvat.

Tentu saja ada persyaratan mutlak agar misi syahwat itu berhasil. Sang agen perempuan mesti berwajah memikat dan memiliki lekuk tubuh aduhai. Dijamin korbannya akan bertekuk lutut. Dengan seks, kedua pihak sama-sama diuntungkan.

Contoh paling mutakhir diterapkan terhadap pembocor nuklir Israel Mordechai Vanunu.

Vanunu bekerja sebagai teknisi nuklir di sana sejak 1976. Tiga tahun kemudian, dia mengambil kuliah jurusan geografi dan filsafat di Universitas Ben Gurion, Kota Beersheba. Di kampus, dia terlibat kegiatan politik yang menentang kebijakan Israel terhadap Palestina, termasuk mengutuk Perang Libanon 1982. Dia akhirnya diberhentikan pada awal 1985 setelah ikut berunjuk rasa menyokong terbentuknya negara Palestina. Sebelum keluar, dia berhasil mencuri dokumen program nuklir rahasia Israel serta menghasilkan 57 jepretan secara rahasia.

Sembilan tahun berkutat dengan nuklir dalam laboratorium reaktor Dimona di gurun Negev, selatan Israel, tidak membuat Mordechai Vanunu dingin terhadap perempuan. Mossad (dinas rahasia luar negeri Israel) paham benar soal itu.

Sebab itu, Mossad menggunakan agen perempuan cantik dengan nama sandi Cindy buat menjebak Vanunu. Perempuan bernama lengkap Cheryl Bentov itu menyamar sebagai pelancong asal Amerika Serikat.Di akte, perempuan kelahiran 1960 ini bernama Cheryl Hanin. Dia dilahirkan di keluarga keturunan Yahudi dan sempat tinggal di kota Pennsylvania dan Orlando, Negara Bagian Florida, Amerika. Menginjak remaja, dia bersama orang tuanya pindah ke Israel. Di negara Zionis itu, di menemukan pendamping hidup, agen Mossad bernama Ofer Ben Tov. Mereka menikah pada 1985 dan Cindy ikut direkrut serta dilatih menjadi mata-mata.

Hasilnya memang tidak mengecewakan. Vanunu yang ketika itu 32 tahun terpikat dengan paras menawan dan tubuh molek Cindy, seperti dilansir surat kabar the Times.

Singkat cerita, Vanunu dan Cindy menjalin asmara. Namun, Mossad tidak mau gegabah menangkap Vanunu di Inggris. Jika itu terjadi, bisa merusak hubungan kedua negara. Satu-satunya cara adalah bagaimana agar lelaki Yahudi keturunan Maroko itu mau keluar dari Inggris. Itu menjadi tugas utama Cindy selanjutnya.

Kelihaian Cindy membuat Vanunu terbuai. Akhir September 1986, keduanya sepakat terbang ke Ibu Kota Roma, Italia, buat liburan. Kapal intai milik Angkatan Laut Israel, INS Noga, diperintah bersiaga di lepas pantai Italia.

Dari bandar udara, Cindy bersama Vanunu menumpang taksi menuju sebuah apartemen hyang sudah mereka sewa. Di apartemen itulah, tiga agen Mossad lainnya menunggu. Di sanalah Vanunu dilumpuhkan. Dia dibuat pingsan dengan suntikan obat bius. Tugas Cindy selesai sampai di situ.

Malamnya, dengan minibus putih sewaan Kedutaan Besar Israel di Roma, ketiga agen Mossad itu membawa Vanunu ke dermaga. Lantas menumpang perahu cepat menuju INS Noga, yang akhirnya mendarat di pantai antara Ibu Kota Tel Aviv dan Haifa di Israel.

Vanunu diadili secara rahasia, tanpa saksi dan pembela. Dia diivonis 18 tahun, termasuk 11 tahun dalam penjara isolasi. Dia dibebaskan pada 2004 dengan status tahanan kota.

Fatwa Ari Shvat mendapat kecaman Rabbi Yahudi lainnya 


Pernyataan Ari Shvat itu menurut Grand Rabbi Iran, Mashallah Golestaninejad adalah bentuk legalisasi perzinahan yang dilarang dalam agama Yahudi dan pelakunya harus dilempari batu sampai mati.

Dalam wawancara 14 tahun lalu, dan dipublikasikan secara penuh untuk pertama kalinya di surat kabar pro-Livni dan dikutip oleh Koran Sunday Times, Inggris, Jumat, 02/11/12, saat menjawab pernyataan Livni bahwa dirinya pernah melakukan hubungan seks untuk mendapatkan informasi, dalam koran itu, Livni menjawab, "Jika saya diminta untuk melakukannya, saya tidak tahu apa yang harus saya katakan. Di kantor (istilah Mossad untuk dirinya sendiri) adalah pekerjaan yang disesuaikan untuk semua orang."

Menjawab pernyataan Livni itu, Rabbi Ari Shvat mengatakan seorang wanita Israel memungkinkan berhubungan seks dengan musuh untuk pertukaran informasi penting dan hukum Yahudi mengijinkan jenis tindakan seperti itu.

Pernyataan Ari Shvat tak pelak menciptakan kekacauan di dunia Yahudi dan para Rabbi dari berbagai belahan dunia bereaksi keras mengomentari pernyataan Shvat tersebut.

"Sumber Yudaisme tidak mengizinkan perbuatan seperti itu sama sekali, itu adalah perzinahan dan dilarang dalam agama kami berdasarkan instruksi eksplisit dari Sepuluh Perintah Allah. Tidak boleh melakukan perzinahan sama sekali," kata Grand Rabbi Iran, Mashallah Golestaninejad.

Dalam sebuah wawancara dengan situs Javan, Rabbi Golestaninejad mengutuk keras pernyataan Shvat dan mengatakan, "Dia tidak lebih dari seekor keledai, dan tidak mengerti sebesar apa keledai itu .... Pernyataan orang tersebut adalah murtad, dan pelakunya menurut instruksi Taurat harus dilempari batu sampai mati. "

"Livni bukan pengikut iman. Pikiran dan tujuan Zionisme bertentangan dengan iman Yudaisme, Zionis mengabaikan petunjuk Taurat, Oleh karena itu menjadi normal bagi mereka untuk melakukan prostitusi demi mencapai tujuan dan sasaran mereka. Tegas Rabbi Golestaninejad[merdeka/islamtimes]

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+
Tags :

Related : Rabbi Ari Shvat Keluarkan Fatwa : Agen Mossad perempuan boleh bersetubuh dengan musuh untuk mencapai misinya.