Breaking News
Loading...
Kamis, 12 September 2013

Marak Penembakan Polisi Didorong Kemarahan Publik?

Sekitar dua bulan terakhir beberapa anggota polisi ditembak orang tidak dikenal. Yang terbaru penembakan Bripka Sukardi di depan kantor KPK Kuningan, Jakarta Selatan, sebelumnya Aiptu Dwiyatna, anggota. Pembinaan Masyarakat (Bimas) Kepolisian Sektor Metro Cilandak. Dwi ditembak di depan Rumah Sakit Sari Asih, Ciputat, Rabu (7/8/2013) sekitar pukul 5 WIB.

Akibat penembakan itu, Dwi meninggal di tempat. Kemudian Aipda Patah Saktiyono, menjadi korban penembakan orang tak dikenal, tepatnya Sabtu (27/7/2013) pukul 04.30 WIB di Cirendeu Raya.

Dan, Briptu Ratijo, anggota Pos Polisi Bunut Polsek Sragi, ditembak orang tak dikenal di Simpang Tanggul, Desa Bunut, Kecamatan Seragi, Lampung Selatan, Kamis (4/7/2013) pukul 18.30. Ratijo ditembak setelah melakukan pengejaran terhadap sekelompok orang mencurigakan dari Desa Belanga, Kecamatan Sragi, menuju Desa Bunut. 

Ketika awal bulan agustus Penembakan terhadap Polisi marak, media Kompas online menurunkan berita dengan judul : Marak Penembakan Polisi Didorong Kemarahan Publik


Banyaknya penembakan terhadap anggota polisi didorong dendam publik atas arogansi kepolisian. Karena itu, Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) harus sungguh-sungguh mewujudkan reformasi kepolisian, bukan hanya lip service.

"Saya tidak yakin penembakan polisi itu aksi teror. Menurut saya itu sikap tidak suka masyarakat. Masyarat menyimpan dendam pada anggota polisi," ujar pengamat sosiologi hukum dari Universita Gadjah Mada Sudjito saat dihubungi, Rabu (7/8/2013).

Dia menilai, masyarakat sudah dalam kondisi terdesak oleh sikap antagonis polisi. Ketika didesak, katanya, dalam keadaan terpaksa, masyarakat akan melakukan perlawanan. "Itu hukum alam, kalau polisi terus terus menunjukkan sikap antagonis, ketika didesak betul, dalam keadaan terpaksa, masyarakat akan melakukan perlawanan," kata dia.

Dia menilai, kepolisian kerap menyosialisasikan perubahan dan perbaikan budaya kerja. Tetapi, pungkasnya, tidak ada perbaikan yang nyata. "Yang saya lihat polisi dan jajaran selalu ingin melakukan perubahan, tapi kenyataannya hanya pernyataan normatif saja. Belum pernah masyarakat merasakan perubahan kepolisian," ujar Sudjito.

Sementara itu pengamat Kepolisian dari Universitas Indonesia Bambang Widodo Umar. Menurut Widodo, kinerja kepolisian harus segera dibenahi, khususnya Datasemen Khusus Anti Teror 88.

"Tetap saya melihat kali ini sebagai aksi-reaksi daripada cara kerja Polri itu sendiri. Khususnya bagi Densus 88. Tindakan Densus 88 itu perlu dibenahi, jangan terlalu eksistensi atau terlalu berlebihan" kata Bambang di lokasi penembakan depan gedung KPK, JalaN HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, Rabu (11/9/2013).sebagaimana yang dilansir oleh liputan 6.
Bambang menghimbau Polri segera melakukan pembenahan kinerjanya. Selain itu, Polri juga dituntut meningkatkan pengawasan terhadap setiap anggotanya.
"Cara-cara bekerja Densus di dalam menyikapi terorisme ini harus lebih manusiawi. Tindakan penembakan ini sebagai pelajaran, cuma akibatnya ini kan sasaran pelaku ke polisi lalu lintas, polisi Samapta," tambah Bambang.[liputan6/kompas]

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+
Tags :

Related : Marak Penembakan Polisi Didorong Kemarahan Publik?